JABARONLINE.COM - Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, melontarkan peringatan keras soal kesiapan pertahanan nasional di tengah perubahan pola perang global yang kian ekstrem. Ia menilai Indonesia tak boleh terjebak pada pola pikir lama, sementara dunia telah bergerak menuju era peperangan berbasis teknologi tinggi, Senin 2/3/2026.

Dalam kuliah umum di Gedung Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas), SBY menegaskan bahwa wajah perang telah berubah drastis. Pertempuran tak lagi identik dengan tank dan pasukan infanteri di garis depan. 

Kini, medan tempur meluas ke ruang siber, kecerdasan buatan (AI), sistem robotik, hingga strategi yang melampaui doktrin konvensional.

“Dunia AI, dunia robotik, dunia beyond conventional thinking, conventional warfare, kita harus siap. Jadi jangan takut,” tegasnya.

SBY secara gamblang menyoroti paradigma lama yang terlalu menitikberatkan kekuatan darat. Menurutnya, dalam lanskap ancaman modern, supremasi udara justru menjadi faktor penentu kemenangan atau kekalahan.

“Dulu seolah-olah untuk Indonesia diutamakan angkatan darat atau army. Sekarang, air power ini sangat penting,” ujarnya.

Ia bahkan melempar pertanyaan yang menggugah kesadaran strategis: bagaimana jika terjadi serangan udara yang langsung menghantam Jakarta? Atau menyasar pusat industri pertahanan di Bandung, Surabaya, hingga kota-kota strategis lainnya? SBY menegaskan, skenario tersebut bukan untuk menebar ketakutan, melainkan membangun kewaspadaan nasional.

Menurutnya, doktrin pertahanan keamanan rakyat semesta (Hankamrata) yang selama ini menjadi fondasi sistem pertahanan Indonesia memang relevan pada zamannya-dirancang untuk menghadang musuh di perbatasan, menjaga garis pantai, mempertahankan pulau-pulau besar, hingga mengandalkan perang gerilya. 

Namun perkembangan teknologi militer kini memungkinkan serangan presisi tinggi dilakukan dalam hitungan menit dan langsung menargetkan pusat pemerintahan maupun objek vital nasional.